Tiga bangunan berdiri berderet di sana, ada ruang kelas, ruang bermain, dan satu Pos Persalinan Desa (Polindes). Ketiganya dipenuhi oleh lumpur. Di ruang bermain, ruang yang seharusnya dipenuhi oleh tumpukan bola seperti sebuah bak mandi bola, namun bola-bola itu justru tertahan oleh lumpur yang hampir mengering. Sejak banjir dan longsor menimpa Gampong Kubu, pembelajaran di PAUD Tazkiyatun Nufus dan Polindes terhenti, mereka tidak tahu kapan pastinya aktivitas bisa kembali dilakukan di sana.
“Aktivitas sekolah ya karena kayak gini jadi berhenti. Kalau kemarin lumpur yang di sini sebatas itu (dinding) mungkin ada sebatas itu ya,” ungkap Nora.
“Kebetulan ada bawa kunci, ya sudah masuk terus ke sini. Wireless-nya itu kami taruh di atas apa, lemari kami selamatkan. Kalau yang kayak kipas angin, buku-buku, itu nggak sempat (dievakuasi), karena takutnya airnya keburu tinggi,” lanjut Nora.

















